Kamis, 03 November 2011

Gemilang Dari Perjuangan

   
Pagi ini langkahku tenang, tapi tenangnya langkahku tidak sepadan dengan debaran jantungku, leher serasa tercekik dan nafas terengah – engah seperti sewaktu aku mengikuti ujian praktek olahraga sewaktu aku sekolah dulu. Ujian Nasional membawaku sampai sekarang ini aku lulus dan menemui suasana dan latar hidup yang berbeda, jika dulu aku dibimbing, sekarang aku membimbing, jika dulu aku dinasehati, sekarang aku menasehati. Perjalanan yang indah suka duka ku lalui, kini semua pelajaran berharga dari segi formalitas, norma, kehidupan yang semuanya ku dapatkan dari sekolah telah membawaku ke dalam posisi seoarang guru kejuruan yang bertitelkan S.Kom.



Langkahku semakin dekat dengan kelas yang akan ku masuki, semakin dekat….. dekat….dekat….. dan semakin dekat, begitu pula jantungku semakin berdebar kencang. Bola mata kini dapat melihat kilauan hitam rambut para murid baru dari jendela dan sampailah ku di depan pintu kelas yang membuatku menarikkan nafas panjang untuk menenagkan hati ini, kemudian dengan tangan agak berkeringat ku pegang dan ku buka pintu. Mulai ku lihat wajah – wajah yang berseri diawal tahun ajaran ini mengingatkan ku pada waktu aku pertama kali masuk SMK.
    

Ku pandangi semua murid dari sudut kelas hingga ke depan singgasana meja ku mengajar. Tarik nafas panjang, “ Assalamualaikum warroh matullahi wabarokatu” itu lah kata pertama yang aku ucapkan utuk menyapa, mereka pun menjawab salamku dengan penuh rasa hormat. Diawali dengan salam yang membuatku tenang, semua berjalan dengan nyaman dan lidah ni tanpa sadar flexible untuk mulai merangkai kata – kata layaknya seorang guru.        
Seperti biasa, pada hari pertama tahun ajaran baru suasana tidak efesien untuk belajar. Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang” itulah yang digunakan oleh salah satu murid untuk berusaha agar hari pertama ini tidak belajar. Senyuman dibibirku mulai terbentuk dan aku tertawa dalam hati “ternya sumua belum berubah sama seperti waktu aku sekolah dulu” ucapku dalam hati. Semua memang membuatku rindu akan masa – masa itu yang kini semua sudah terbalik, mungkin aku akan mulai dapat merasakan secara real apa yang di rasakan guru sewaktu muridnya bandel dan onar.        

Buku absen mulai ku buka dan ku panggil mereka satu persatu sesuai urutan abjad. Interaksi terjadi, canda tawa terbentuk, batin mulai merasa erat dan peduli dengan berjalannya waktu hingga nanti mereka lulus. Itulah yang aku harapkan pada hari pertama ini, memupuk rasa peduli dan saling menyayangi antar penghuni sekolah pada umumnya dan khususnya kepada saya. Keluarga baru, suasana baru, dan pola fikir yang baru semua mulai ku coba menjalaninya.        

Perkenalan sudah kulakukan, bertanya satu persatu tentang karakter masing – masing murid juga sudah, aku bingung harus apa lagi, akhirnya aku putuskan untuk masuk ke materi dan mulai belajar. “pak kok hari pertama belajar pak? Cerita – cerita aja pak, pengalaman bapak misalnya.” Itulah kata yang ku dengar dari salah satu murid saat aku mulai masuk ke materi. Tak kuasa hatiku menahannya, aku kembali tersenyum aku pun tak bias marah, karena itu semua pernah aku lakukan. Sedikit rasa bingung untuk memenuhi permintaan itu, maka aku tawarkan ke pada mereka, “gimana kalau salah satu dari kalian saja yang bercerita di depan kelas, misalkan pengalaman sewaktu MOS.” Tapi tak satu pun dari mereka untuk menawarkan dirinya, mental mereka tak setebal baja untuk langsung dapat bersosialisasi dengan wajah – wajah baru di kelasnya.           

Otakku tak kehabisan akal, akupun bercerita bagaimana tentang aku yang dulu sewaktu sekolah. “kalau dari kalian tidak ada yang mau bercerita, mungkin ada satu cerita yang bisa menghibur, menambah wawasan kalian. Ini cerita tentang perjuangan bapak dulu ingin bersekolah”. Berkas – berkas file dalam otak ku bongkar kembali dan ku ceritakan pada murid – muridku “ bapak dulu tamatan SMP Bina Bangsa, tapi suatu nasib membawa bapak harus putus sekolah, karena factor ekonomi yang minim”. Hutang menghantui keluargaku waktu itu, akhirnya harta terakhir dari maskawin sampai rumah dan tanah di tukar dengan hutang itu. Nasib membawaku pindah di pemukiman kaum di bawah rata – rata. Gubuk seadanya yang kami pakai, sedih dan miris mengingat masa itu.           

Hidup berotasi mengalami perubahan nasib, dulu kami yang serba berkecukupan sekarang makan 3x sehari tak terpenuhi. “setelah bapak mulai sadar semua itu kehendakNya, bapak coba tuk terima semua dan tidak mau hanya meratapi, menyesali dan menyalahkan keadaan. Waktu itu hanya gitar tua milik ayah bapak yang bisa bapak manfaatkan untuk mengamen”. Takdir berkata aku sekarang jadi seorang pengamen, tapi harapanku takdir esok hari berubah membawaku kembali bahagia.           

Setiap hari dari terbit matahari sampai terbenam matahari, demi mencari sesuap nasi aku barangkat ke tempat yang di padati dengan asap dan debu. Perempatan lampu merahlah yang aku tuju setiap hari dengan bekal sebuah gitar tua peninggalan ayah waktu muda dulu, ku tawarkan suara pas-pasanku. Awalnya hari – hariku sepi sampai seoarang anak lelaki yang cerdas dan agak kecil masuk ke dalam hari-hariku dan menjadi temanku, dia adalah Sulaiman yang sering ku sapa Eman. Semua kini terasa lebih gembira. Tak cukup sampai disini masih ada 1 anak lagi yang membuatku semakin sabar atas nasib ku, dialah Eci seoarang anak perempuan yang rajin, tekun dan perkasa wajar saja dia memang anak yang tomboy dan dia menggantungkan hidupnya dengan berjualan Koran.           

“senasib sepenanggungan, itulah landasan kami lebih peduli dan menjadi sahabat” ujarku kepada murid – murid, “ingin bersekolah itu adalah impian kami waktu itu, dan karena mimpi itulah yang menjadi landasan semangat kami terus bekerja giat”. Tentang semangat ku jelaskan pada anak  didikku, karena dengan semangat kita bisa melalukan yang biasanya belum pernah kita lakuakan dan biasanya yang mustahil bisa terjadi.           

Hari – hari telah kami lalui bersama, “gimana ini, tiap hari gini – gini aja” ucapku waktu itu dengan kesal karena uang kami tak kunjung banyak. “ iya nih, gimana kita mau sekolah kalo uangnya aja gak ada” tambah Eci membelah opiniku, Eman hanya terdiam mendengarkan perkataan mereka yang mengeluh atas apa yang mereka impikan tak terwujud, “ aku jadi ingat perkataan temanku sewaktu aku SMP dulu namanya irfan”, Eman mengambil air minumnya yang belum dihabiskannya. Dia menunjukan air itu kepada kami, “ jadikan dirimu seperti air” katanya dengan memnunjukan setengah gelas air minum. Aku dan Eci bingun dengan kata – kata tersebut, sebenarnya apa maksud dan arti dari kata itu. “ maksudnya apa ?” Tanya ku dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, “ maksud ku kalian dapat belajar adari semua sifat – sifat air intuk filsafah hidup kalian, unutk pandangan kalian harus melakukan apa dalam menjalani hidup ini”. Dia mencoba menjelaskan untuk tetap menyemangati kami yang intinya adalah semua sifat yang ada pada air dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari – hari. Contohnya sifat air yang mengalir “ kita ini mengalir seperti air, yang gak tau bakal nemuin apa sewaktu mengalir, yang kita tau kita bakal bermuara di laut dan muara kita yaitu surge dan neraka,” sebuah penjelasan yang membuatku bingung, “ air gakkan pernah tau diakan bertemu sampah – sampah di sungai, kotoran manusia, banjir, dsb. Tapi dia tetap bias sampai ke muaranya.”            

`Penjelasan itu mulai ku cerna dan kupahami, ternyata memang benar kita tidak akan tau bertemu nasib dan cobaan yang seperti apa yang kita dapat, yang kita tau nanti adalah terus berusaha agar dapat sampai kemuara kita yaitu surga. Masih ada sifat yang dapat diambil dari air, “air menempati ruangnya dan akan berbentuk seperti penampangnya” kalimat itu kembali aku tafsirkan. “ maksdunya apa sieh ?” Tanya Eci penasaran “sikap kita ini harus bias kita tempatkan pada tempat yang sesuai, contohnya seperti dijalanan sikap kita tidak bisa disamakan dengan sikap kita di sekolah, tutur bahasa kita kepada orang tua tidak bisa kita samakan dengan teman sebaya, semua harus sesuai dengan tempat dan lingkungannya” penjelasan yang cukup masuk akal dan bermanfaat. “ air juga sangat dibutuhkan bagi siapa saja, tak hanya manusia” menambahkan filosofinya, yang maksudnya adalah kita sebisa mungkin menjadi seseorang berguna dan dibutuhkan bagi kaum terdekat kita terutama, karena dengan begitu suatu persaudaraan akan terjalin erat dan hidup ini lebih berarti di mata Allah walaupun kita ini seseorang yang tidak mampu, tapi kita mampu mengumpulkan amal yang sangat berharga di akhirat kelak.           

“Suatu hari bapak dan kawan – kawan pergi ke sekolahan ini sekedar untuk melihat –lihat, karena kerinduan kami ingin bersekolah”. Ucapku semangat bercerita kepada para murid, awalnya aku sangat malu untuk masuk ke dalam sekolah tersebut, semua karena status jalanan yang ku miliki. “gak usah malu, udah yuk kita masuk ja sekarang” Eman merayaku, tapi aku tetap juga tidak bisa untuk masuk ke dalam, “ kita ini sama aja sama mereka, hanya nasib yang berbeda. Belum tentu juga mereka yang di dalam lebih piter dari kita anak jalanan. Kesempatan masih ada buat kita selagi kita masih bisa memanfaatkan waktu yang ada”. Aku hanya bisa terdiam dan berfikir atas apa yang dikatakan oleh Eman, ku coba buang semua rasa malu atas nasibku saat ini. Aku terus bersyukur dan tak perlu maslu atas semuanya, “ dah yuk buruan masuk” ajak Eci memaksa.           

Lapangan yang luas, ruang belajar yang rapi serta gedung – gedung belajar yang memadai, semuanya membuatku semakin semangat dan rindu untuk bersekolah. Hari itu aku beristirahat di depan suatu pintu yang tertera di atas pintu adalah Lab.4, sedikit melepas lelah kami sambil berbincang dan merebahkan kaki. “ suatu sofware yang dapat mengolah gambar vektor adalah” itulah pertanyaan yang ku dengar dari dalam Lab.4. “ sepertinya mereka sedang belajar ya ?” Tanya Eci terhadapku, “kayanya sih emang gitu, mereka masih bahas masalah komputer dan softrware”. Ada satu pertanyaan yang tidak mereka jawab waktu itu, kebetulan aku tau jawabannya, lidahku merefleknya, “ 192.168.1.1” jawaban tentang jaringan yang tidak dapat dijawab oleh  murid – murid di dalam Lab.4.            Mungkin karena rasa penasaran dari para murid dan guru, di bukakannya pintu Lab tersebut, “ apa benar salah satu dari kalian yang menjawab pertanyaan tadi” Tanya guru terhadap kami, “ bener pak, ini temen saya yang jawab sok pinter pak anaknya” Eman yang malu terhadap sikapku yang senonoh “ ia pak, maafkan kami” tambah Eci. “ teman kalian menjawab dengan benar dan tepat, sebetulnya kalian siswa mana?”. Kami serentak menundukkan kepala menahan rasa malu, “ maaf pak, kami lancang telah masuk kedalam sekolah ini, sebenarnya kami hanyalah anak jalan pak yang belum ada kesempatan untuk bersekolah”. Mendengarkan penjelasan kami mereka terharu dan tergugah hatinya, sejak saat itu kami semakin akrab dengan beberapa murid di sana. Sesekali pada waktu senggang mereka mengajak kami untuk belajar bersama.           

Waktu membawa pada persahabatan yang erat, pengetahuan kami bertambah, selepas bel pulang sekolah yang dijadwalkan pukul 13.45 giliran kami yang menuju sekolah dengan pakaian lusuh kami. Pada suasana ini aku merasakan derajat yang sama, Allah maha adil dan mengetaui apa yang sebenarnya kita mau. Sumua yang kita mau akan terpenuhi apabila kita bersabar, berjuang dan rajin beribadah.           

Sepucuk surat dating ke sekolah menginformasikan adanya lomba LCT IT tinggkat SMK/SMA/MA se Provinsi. Kesempatan ini tidak disia – siakan oleh teman ku yang bersekolah di SMK 1 Gadingrejo, mereka belajar dengan giatnya. Gudang soal mulai dibongkar dan disusun rapi dalam otak agar semua terekam dalam memori. Kegigihan dan perjuangan yang akan membawa kita dalam kesuksesan bukan hanya factor keberuntungan.           

Tiba dihari pertempuran, semua senjata sudah mereka siapkan dimalam harinya, mulai dari pena, buku dan yang ketinggalan adalah otak dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah. “ Berjuang keras ya!” menyemangati mereka sehari sebelum perlombaan. Sedikit memberi semangat dan memang hanya itu yang kami bisa lakukan.           

Pagi itu aku, Eman dan Eci beraktifitas seperti biasa mencari uang. Dalam remangan asam kendaraan dan debu ku melihat sesosok orang yang tak asing. Semakin dekat dan semakin bahwa dia adalah Ria salah satu murid yang sangat akrab dengan kami. Mukanya panic, membawa aura negative yang membuat kami takut, “ berita buruk, Aldi kecelakaan” semua panic atas apa yang dikatakan oleh Ria. Semua belum jelas di kepalaku, membuat ku gundah dan gelisah kerena setelah mengucapkan kabar buruk itu Ria dan pak guru mengharapkan aku untuk menggantikan posisi Aldi. Berat bagiku untuk memenuhi keinginan itu, tapi tekat bersemi karena permintaan itu dating langsung dari Aldi.           

Dengan semangat dan kecerdasan yang belum ku tau batasnya, kumencoba tidak mengecewakan orang yang sudah mempercayakan tugas ini. “wieh…. Keren banget kamu pake pakaian sekolah, gak keliatan anak jalanannya” ejek Eman yang melihatku dengan seragam SMK. Dentaman jantung yang keras seperti peperang menggunakan bom dan nuklir, ini lah peperangan yang sesungguhnya.           

Sorak penonton dan tepuk tangan membuatku terharu, bahagia dalam pesona yang tidak pernah aku dapat selama satu tahun ini. Air mata jatung menghiasi kemenangan kami waktu itu, anugrah terindah bagiku dapat menjunjung Piala Juara I. lenyaplah sudah rasa takutku atas semua fikiran negative dalam perlombaan, aku takut aku memperburuk keadaan. Tapi aku dapat menunaikan apa yang telah Aldi percayakan padaku.           

Senyum bahagia ku lihat dari wajah Eci dan Eman yang sedang membesuk Aldi di Rumah Sakit, terutama pada wajah Aldi yang sontak tak merasakan rasa sakitnya walau hanya beberapa menit saja. Kemenangan mensugestikan semangat untuk dapat tersenyum dan tertawa, “ini piala mu Di” menyerahkan piala tersebut ke lengannya yang tak terbalut oleh infuse. “ini piala kita, bukan pialaku. Semua karena perjuangan kita bersama dan doa kita bersama”.          

Gitar kembali ku pengan dan ku nyanyikan pada waktu sangmerah yang bundar menyala. Hari lancar seperti biasa, kehidupan jalanan masih ku lakoni. Berita gembira yang membuat kami bersujud syukur adalah di usulkannya kami ke SMK dengan program bantuan anak jalanan dan Beasisiwa. Jalan yang terang mulai kami dapati, “ yes.. tahun depan kita ikut seleksi dan tes, semoga kita keterima dan jadi siswa lagi” jeritku ke pada Eman sambil memegang pundaknya.          

“tes untuk masuk telah bapak hadapi, dengan giat bapak belajar waktu, keinginan untuk bersekolah yang memacu bapak belajar. Alhasil dalam papan pengumuman nama bapak terdapat di nomor urut 14 dari sekian ratus murid”, haru, air mata, syukur, dan bangga menyelimuti diri saat melihat namaku tercantum. Dan tak ketinggalan kebahagian yang sangat berarti adalah seorang sahabat yang selalu ada dalam susah maupun senang, Sahabat yang mengiringi langkahku dan ikut bergelut dengan pelajaran sampai kata lulus kami dapatkan.           

Selama 3 tahun bersekolah, kami tidak lepas dari kehidupan jalanan, mengamen tetap ku lakoni untuk mencari tambahan uang makan dan jajan. “ jadi bersyukkurlah kalian yang mendapatkan kesempatan sekolah, banyak di luar sana anak yang menginginkan menjadi siswa, tapi nasib yang berkata lain. Jangan buana kesempatan, dan jangan kecewakan orang tua yang bkerja giat untuk biaya anaknya sekolah, demi kemajuan dan kecerdasan anaknya” suatu nasehat yang ku berikan kepada murid – muridku. “lah terus sahabat bapak yang dua itu kemana sekarang pak?” Tanya salah satu murid padaku, “ setelah lulus mereka tidak melanjutkan kuliah melainkan bekerja dalam dunia percetakan dan design. Karena hoby yang sama kantor yang sama, 3 bulan sebelum bapak di wisuda jodoh menghapiri mereka dan akhirnya mereka menikah dan sekarang membuka Home Industri percetakan kecil kecilan.           

Tak terasa membuka kembali file yang sudah tersimpan membuat waktu berjalan cepat dan membuat ku lapar dan haus, seakan semua mengerti dengan kondisi yang aku inginkan, akhirnya bel istirahat berbunyi. “ baik anak – anak, bel istirahat telah berbunyi, sampai jumpa besok, wassalamualaikum warrohmatullahiwabarokatu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar